WORKSHOP START UP

Bimbingan Teknik Peningkatan Kapasitas dan Usaha Kelompok Menuju Start Up Berdaya Saing

Dokumentasi pelaksanaan workshop startup di ruang sidang utama LPPM Universitas Mataram

(Mataram, 19/05/2022), Perguruan tinggi sebagai salah satu pusat penyelenggaraan ilmu pengetahuan dan teknologi menurut Undang-undang No 12 Tahun 2012 memiliki tujuan untuk menghasilkan produk Iptek yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Manfaatnya akan terasa apabila hasil produk iptek tersebut dapat dikomersialkan. Dampaknya, ada perekrutan tenaga kerja baru dan subsitusi impor dari luar negeri. Komersialiasi hasil riset dan inovasi perguruan tinggi pun diupayakan denngan melakukan program pendampingan usaha pemula ataupun UMKM lokal baik yang lahir dilingkungan Perguruan Tinggi ataupun masyarakat NTB. Mendukung pencapaian tersebut, Inkubator Bisnis dan Inovasi LPPM UNRAM bekerjasama dengan BNPB Mataram dalam menyelenggarakan program pendampingan UMKM lokal yang mampu bergerak menjadi start up mandiri. Melalui pelaksanaan Workshop Start Up dengan tema “ Bimbingan Teknik Peningkatan Kapasitas dan Usaha Kelompok Menuju Start Up Berdaya Saing”. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, dengan mendatangkan peserta yang berasal dari usaha Mahasiswa ataupun Dosen serta UMKM lokal NTB secara offline di Ruang Sidang Utama LPPM UNRAM. Pemateri yang berasal disekitar NTB yaitu Dinas Kesehatan dan Founder Lombok Women Preneur NTB didatangkan secara offline. Sedangkan pemateri yang berasal dari UNDP-UNIDO dan Telkom Indonesia dihadiri secara online menggunakan ruang zoom meeting.

Mendukung kapasitas target UMKM dalam workshop ini, maka dihadirkan beberapa pemateri yang handal sesuai bidangnya diantaranya : Ms. Sheila Teta Carina selaku Technical Coordinator Impact Investing UNDP-UNIDO dengan fokus materi yaitu pembangunan start up. Selanjutnya pemateri kedua yaitu Mr. Tri Wahyudi, ST selaku Founder aplikasi muslimlife dengan fokus pembahasan yaitu digital marketing. Pada pemateri ketiga yaitu Founder Lombok Women Preneur sekaligus direktur NTB Mall (Ms. Indah Purwanti, SE) dan pemateri terakhir yaitu Mr. Aspun Bahri selaku Fungsional Penyuluh Kesehatan Ahli Muda Dinas Kesehatan Kota Mataram.

Tidak hanya itu, peserta dalam workshop start up ini terdiri atas 30 peserta yang berasal dari tenant binaan Kubinov UNRAM dan BNPB Mataram. Tenant ini sebagian besar memiliki bidang usaha berupa olahan pangan, olahan makanan, minuman, kerajinan tangan dan kesehatan.

Workshop Start Up ini dibuka dengan penyampaian sambutan yang disampaikan oleh Sekertaris LPPM UNRAM (Prof. Dr. I Gusti Putu Muliarta Aryana, MP), Beliau menyampaikan bahwa dengan dilaksanakannya workshop start up bimbingan teknik usaha kelompok yang melibatkan berbagai usaha lokal baik dari kalangan mahasiswa, alumni ataupun masyarakat umum mampu menjadi ruang untuk saling bersinergi meningkatkan kapasitas usaha baik dari skala start up, digital marketing, managemen usaha ataupun legalitas usaha. Tentunya materi bimbingan teknik ini sangat membantu dan memberi manfaat yang sangat baik kepada para tenant binaan Kubinov dan BNPB ini. Kedepannya, tentu tenant yang mengikuti bimbingan ini diharapkan akan memperoleh peningkatan kapasitas yang membantu meningkatkan kualitas UMKM lokal di NTB.

Dengan dibukanya kegiatan ini, maka berlanjut pada penyampaian materi pertama yang disampaikan oleh Ms. Sheila, yang dimoderatori oleh Ketua Inkubator Bisnis dan Inovasi LPPM UNRAM (Ms. Oryza Pneumatica Inderasari, S.Sos.,M.Sosio). Pada penyampaiannya, NTB memiliki peluang yang cukup tinggi dalam pembangunan start up dibidang blue economy berupa perikanan dan pariwisata. Ms. Sheila pun menjelaskan akan peluang program pendanaan start up yang sejak beberapa tahun terakhir 40% telah tersebar di seluruh Indonesia. Pembangunan start up pun dapat diupayakan dengan mengajukan anggaran kebutuhan start up yang diajukan pada beberapa instansi ataupun perusahaan yang terkait inovasi start up yang diciptakan.  Materi yang menarik ini pun, mendapat perhatian dari peserta dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Pertanyaan pertama disampaikan oleh mahasiswa dengan nama usaha yaitu Ronas, dengan pertanyaan “ Bagaimana harus memulai dan apa yang disiapkan  serta bagaimana solusi untuk pendanaan ?”. Selanjutnya, pertanyaan kedua diajukan oleh mahasiswa dengan usaha berupa sunscreen, dengan pertanyaan “Bagaimana cara mengaplikasikan konsep start up yang dirancang dengan program UNDP?”. Pertanyaan Ketiga disampaikan oleh UMKM lokal berupa olahan tepung, yang menanyakan terkait bagaimana mengarahkan olahan tepung menjadi start up”. Dan pertanyaan terakhir pun disampaikan oleh mahasiswa dengan usaha yaitu Conplas yang menanyakan terkait “apakah usaha Conplas berupa bahan bangunan layak untuk dijadikan start up”. Pertanyaan – pertanyaan yang cukup menarik ini pun langsung mendapatkan tanggapan dari narasumber “pembangunan start up dapat dimulai dengan membentuk founder dan tim yang terdiri atas IT, keuangan. Legalitas dan costumer serta pihak riset. Langkah awal dapat dilakukan dengan menemukan masalah sekitar, memilih dan menciptakan prototype start up. Tidak hanya itu, tim juga harus menelaahn pangsa pasar. Untuk pendanaan dapat disolusikan dengan mengikuti program pendanaan yang mengajukan prototype yang telah disusun, biasanya pendanaan akan berlangsung selama 6 bulan dan bantuan berupa alat ataupun link investor”.

Beberapa menit setelah penyampaian sesi 1, maka berlanjutlah pada sesi dua yang diisi oleh pemateri yaitu Mr. Tri Wahyudi ST. Mr. Tri merupakan founder aplikasi muslim life yang memperoleh bantuan pendanaan dari Telkom Indonesia. Pada sesi ini pun dimoderatori oleh salah satu dosen UNRAM yaitu Mr. Bagus DH Setyono, MP. Pada penyampaian awal, Mr. Tri memperkenalkan start up muslim life yang diciptakan. “Kunci start up adalah suistanable. Dengan memfokuskan pembangunan start up pada social impact yang tentunya memiliki target kebaikan”, ujar Mr. Tri. Pada penyampaiannya pun beliau menyampaikan bahwa “dalam  penjualan start up target utama adalah mencapai value dalam penjualan, memperkenalkan branding. Bekerjasama dengan berbagai komunitas terkait, yang tentunya mendukung memperkenalkan produk pada masyarakat luas”. Tidak hanya tentang dasar membangun start up, beliau pun menjelaskan bahwa “ Kunci suatu perusahaan adalah channel marketing, yang dapat dilakukan melalui via online berupa google ataupun sosial media. Temukan wadah pemasaran sesuai bidang usaha, misal produk interest dalam di pasarkan melalui sosial media sedangkan produk kebutuhan dapat dipasarkan melalui google. Lebih baiknya lagi produk ini mampu menciptakan platform e-commerse tersendiri, dikarenakan perusahaan lah yang akan memegang datang costumer dan mampu menjaga costumer melalui data yang telah ada”.

Materi yang super energy ini pun mengundang berbagai pertanyaan. Pertanyaan pertama, disampaikan oleh usaha olahan tepung, dengan pertanyaan “Bagaimana cara marketing produk olahan tepung yang mahal namun memiliki khasiat yang sangat bagus untuk tubuh”. Selanjutnya, pertanyaan kedua disampaikan oleh usaha ikan berupa abon ini, dengan pertanyaan “ mana yang lebih efektif penggunaan google atau sosial media”. Dan pertanyaan ketiga disampaikan oleh usaha conplas, dengan pertanyaan “ bagaimana cara meningkatkan minat konsumen pada produk bangunan”. Pertanyaan yang sangat menarik ini pun langsung mendapat tanggapan dari Mr. Tri “ Cara meningkatkan minat konsumen disaat produk memiliki khasiat yaitu dengan membangun pusat edukasi misalnya cooking club yang mengajarkan akan resep masakan sehat menggunakan produk tepung yang dimiliki, sehingga hal ini akan mengundang minat dan secara tidak langsung memperkenalkan pada masyarakat”. Selanjutnya pada usaha abon dapat difokuskan target pasar seperti ibu – ibu dan carilah tempat berkumpulnya konsumen. Dan terakhir untuk produk bahan bangunan seperti conplas dapat dilakukan riset spesifik tentang pasar, dengan melakukan kerjasama pada developer rumah ataupun instansi pemerintahan dan dapat bekerjasama dengan komunitas pecinta alam baik anak muda ataupun orangtua serta dapat dilakukan dengan membuat wadah sosial berupa bantuan bangunan ramah lingkungan pada kaum duafa yang tentunya akan membantu memperkenalkan produk. Materi yang sangat menarik ini pun mengundang pertanyaan baru, pertanyaan ini datang dari usaha sunscreen, dengan pertanyaan “bagaimana strategi marketing produk skincare”. Tanpa berfikir panjang, Mr. Tri pun menanggapi “ menjual skincare bukan hanya tentang beauty tetapi juga tentang value atau inner beauty. Tampilkan peran skincare yang mampu mengarah pad akhlak baik perempuan. Contohnya saja, wardah, mampu menjual value tentang wanita hijrah di Indonesia dan saat ini menjadi branding khususnya.

Penampilan kedua pemateri ini telah memakan waktu hingga menunjukkan pukul. 11.30, kegiatan workshop start up yang telah diagendakan sampai sore hari pun akan dilanjutkan kembali pada pukul. 13.00 WITA. Kegiatan ini pun berhenti sejenak dengan adanya waktu ISHOMA (Istirahat Sholat dan Makan).  

Tak terasa waktu pun menunjukkan pukul. 13.00 WITA, pada sesi siang ini diisi oleh pemateri yang merupakan founder Lombok Women Preneur (Ms. Indah Purwanti). Kehadiran Ms. Indah yang secara langsung ke lokasi workshop mampu meningkatkan semangat para peserta. Tidak kalah menarik dengan pemateri sebelumnya, Ms. Indah pun menampilkan berbagai bidang usaha yang dimiliki serta memaparkan tips trik manajemen usaha yang dilakukan selama ini. “Berani menciptakan struktur perusahaan, menciptakan cabang bisnis baru serta berani memanagemenkan pola promosi adalah langkah untuk mengembangkan usaha yang tidak hanya terfokus pada usaha rumahan”, ujar. Ms. Indah. Tak kalah serunya dengan sebelumnya, para peserta pun antusias bertanya. Pertanyaan pertama diajukan oleh Ronas dengan pertanyaan “ bagaimana dan mulai kapan memutuskan untuk mencari SDM dalam usaha dan memulai membuka cabang”. Tanpa menunggu pertanyaan selanjutnya, Ms. Indah pun menjawab “ Penambahan usaha berarti menambah pikiran, jadi sudah seharusnya menambah SDM dalam usaha. Cara memulai, dengan melakukan evaluasi usaha dan mengontrol SDM  terkait. Jangan pernah takut memperkerjakan orang, tetapi buat komitmen dengan membangun struktur dan aturan perusahaan”. Pertanyaan selanjutnya pun disampaikan oleh salah satu mahasiswa yang memiliki pengalaman usaha ayam geprek hanya saja tutup, lalu pertanyaannya “bagaimana cara memulai kembali”. Ms. Indah pun secara aktif menanggapi bahwa “ langkah awal lakukan eksplore rasa dengan meminta orang lain mencicipi, untuk SDM kalo bermasalah langsung diganti dan terkait harga kalkulasikan yang mampu setara dengan harga pasar pada umumnya. Tidak puas akan 2 pertanyaan, peserta pun bertanya kembali. Pertanyaan ketiga ini disampaikan oleh usaha abon yang bertanya “bagaimana cara menciptakan produk effect waw yang tidak hanya sebentar”. Ms. Indah pun menanggapi “ produk efek waw ini diciptakan untuk mendatangkan 1 kata kunci di masyarakat, mengundang rasa penasaran, terkait keberlanjutan itu akan dilanjutkan oleh pegawai service misalnya bagaimana cara pelayanannya, cara memenuhi permintaan pembeli dan jika servicenya baik maka akan menjadi pelanggan.

Tidak hanya sampai pada pemateri ketiga, workshop start up ini pun dilanjutkan oleh pemateri terakhir yang merupakan bagian penyuluh pangan ahli muda Dinas Kesehatan Kota Mataram (Mr. Aspun Bahri). Pada kesempatan ini,  Mr. Aspun ini pun ditemani oleh moderator yaitu Mr. Satrio Saloko selaku dosen Fakultas Teknologi Pangan UNRAM. Pada penyampaiannya, Mr. Aspun menginformasikan kepada para peserta bahwa pengurusan PIRT saat ini tidaklah berbasis manual ataupun harus mengikuti pelatihan pangan. Saat ini pemerintah telah merubah sistem pengurusan berbasis online yaitu melalui situas oss.id. Pada situs tersebut, pada UMKM dapat dengan mudah melakukan pengurusan dengan mengisi data usaha. Setelah itu, setiap UMKM diberikan kesempatan waktu 3 – 6 bulan untuk mengikuti pelatihan PKP sebagai syarat memperoleh nomor PIRT. Meski waktu telah menunjukkan pukul. 15.00 WITA, para peserta pun tetap antusias bertanya. Pertanyaan pertanyaan diajukan oleh usaha telur asin, yang menanyakan “ apakah pengurusan nomor PIRT dapat dilakukan pada satu nomor saja, meskipun memiliki bidang usaha lainnya. Kedua, apakah sama proses perijinan makanan siap saji dan kemasan dan terakhir, apakah ada biaya dalam proses pengurusan”. Pertanyaan ini pun langsung ditanggapi “ satu nomor PIRT hanya untuk satu produk, sehingga tidak dapat digunakan bersamaan, selanjutnya untuk produk siap saji dan kemasan berbeda, produk siap saji tidak bisa diurus secara online tetapi harus langsung ke lokasi. Lalu untuk biaya perizinan yaitu 152.000/produk untuk biaya laboratorium. Pertanyaan kedua pun diajukan oleh salah satu UMKM yang memiliki nomor PIRT hanya saja tidak dilanjutkan, apakah hangus. Pertanyaan ini pun langsung ditanggapi “ PIRT hanya berlaku dalam 1 periode saja, jika udah lewat maka diperpanjang”.  Selanjutnya, pertanyaan terakhir yaitu “Bagaimana cara menangani kriteria standar dinas yang cukup tinggi dibandingkan dengan kelayakan rumah produksi”. Pertanyaan menarik ini pun langsung ditanggapi “ Sebenarnya kriteria ini sesuai dengan pedoman, hanya saja UMKM dapat mencapai standar yaitu 60 dari level 1-2 maka sudah dapat dikatakan layak.

Dengan berakhirnya, sesi penyampaian materi terakhir ini maka berakhirlah workshop start up ini. Kegiatan yang berlangsung dengan antusias yang tinggi baik dari kalangan pemateri ataupun peserta, mampu mengundang minat peserta untuk terus mengikuti kegiatan yang serupa yang diadakan Inkubator LPPM UNRAM kedepannya. Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama dan harapan besar para peserta untuk dapat mengembangkan usahanya sesuai dengan berbagai materi yang telah dijelaskan sebelumnya.

Translate »